Image
06 Aug

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa dan Mengaqiqahkan Diri Sendiri.

Akikah (bahasa Arab: عقيقة, transliterasi: Aqiqah yang berarti memutus dan melubangi, dan ada yang mengatakan bahwa akikah adalah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong, dan dikatakan juga bahwa akikah merupakan rambut yang dibawa si bayi ketika lahir.Adapun maknanya secara syari’at adalah hewan yang disembelih untuk menebus bayi yang dilahirkan.

Para ulama ahli fiqh sepakat, waktu pelaksanaan aqiqah sesuai sunnah adalah pada hari ketujuh kelahirannya sebagaimana termaktub dalam nash hadits. Aqiqah tidak sah dilakukan sebelum bayi lahir, karena kelahiran bayi adalah adanya penyebab adanya perintah penyembelihan aqiqah.

Para ulama ahli fiqh berbeda pendapat terkait bila aqiqah dilakukan setelah lewat hari ketujuh kelahirannya. Setidaknya para ulama terbagi ke dalam tiga pendapat:

Pendapat pertama; aqiqah sangat terkait dengan hari ketujuh, tidak bisa dimajukan atau ditunda. Jika hari ketujuh terlewati, maka waktu penyembelihan pun lewat, dan gugurlah anjuran untuk mengaqiqahi anak. Pendapat ini di antaranya dikemukakan oleh Imam Malik.

Pendapat kedua; waktu pelaksanaan aqiqah bila tidak bisa pada hari ketujuh, maka bisa dilaksanakan pada hari ke empat belas, dan bila masih belum bisa, maka bisa dilaksanakan pada hari ke dua puluh satu. Sesuai dengan hadits Rasulullah Saw, “Aqiqah disembelih pada hari ke tujuh, atau hari ke empat belas, atau hari kedua puluh satu.” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi, hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani).

Dalam literatur madzhab Syafi’i, waktu kesunnahan itu lebih panjang lagi. Dr. Mushthafa al-Bugha, dkk dalam Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala al-Madzhab al-Imam asy-Syafi’i menyatakan bahwa waktu kesunnahan tersebut berlanjut hingga sang bayi akil baligh. Kemudian, setelah akil baligh, maka tuntutan (mengaqiqahi) bagi sang ayah gugur.

Pendapat ketiga; lebih longgar lagi, waktu penyelenggaraan aqiqah bila tidak bisa dilakukan pada hari ketujuh, maka aqiqah bisa dilaksanakan kapan saja tanda ada batasan waktu. Hukum aqiqah tetap berlaku sampai kapan pun, karena aqiqah itulah yang membebaskan tergadainya bayi/anak seperti termaktup dalam nash hadits.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, makna ‘tergadainya bayi’ adalah: dia tidak bisa memberi syafaat kepada kedua orangtuanya pada hari kiamat jika dia belum diaqiqahi. Maka orangtua tetap bisa mengaqiqahi anaknya meski telah dewasa.

Pendapat ketiga inilah yang kiranya lebih disukai jiwa dan didukung oleh banyak ulama. Orang tua tetap bisa mengaqiqahi meski sang anak telah dewasa. Yang problematis dan menjadi pertanyaan adalah bagaimana bila sang anak yang telah dewasa mengaqiqahi dirinya sendiri?

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Pendapat yang lebih kuat, dia dianjurkan untuk melakukan aqiqah. Ibnu Qudamah mengatakan, “Jika dia belum diakikahi sama sekali, kemudian baligh dan telah bekerja, maka dia tidak wajib untuk mengakikahi dirinya sendiri.”

 

Imam Ahmad ditanya tentang masalah ini, ia menjawab, “Itu adalah kewajiban orang tua, artinya tidak wajib mengakikahi diri sendiri. Karena yang lebih sesuai sunah adalah dibebankan kepada orang lain (bapak).

 

Sementara Imam Atha dan Hasan Al-Bashri mengatakan, “Dia boleh mengakikahi diri sendiri, karena akikah itu dianjurkan baginya, dan dia tergadaikan dengan akikahnya. Karena itu, dia dianjurkan untuk membebaskan dirinya.”

 

“Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya, disembelih pada hari ketujuh, dicukur, dan diberi nama.” (HR.Imam Ahamd, Nasa’i, Abu Daud, Turmudzi, dan Ibn Majah)

 

Comments

Blog Lainya